Lebih dari sekadar sanggul dan kebaya, warisan seorang Kartini yang utama adalah tentang keberanian seorang wanita. Nggak cuma lewat surat, sekarang sosok Kartini juga tertuang dalam layar sinema. Untuk merayakan spirit Hari Kartini, MinBHI punya rekomendasi film perempuan tangguh yang wajib kamu tonton, ini dia list nya.
- Marlina, Si Pembunuh dalam Empat Babak
Film ini menggambarkan betapa sulitnya wanita mendapatkan keadilan di zaman yang didominasi oleh kehadiran laki-laki. Saat Marlina (Marsha Timothy) melaporkan kejadian yang menimpa dirinya ke pihak kepolisian, alih-alih mendapat perlindungan, dirinya justru tidak diurus dan mendapat komentar buruk dari pihak yang seharusnya melindunginya. Di momen ini, ketangguhannya diuji, karena akhirnya ia sadar bahwa dirinya lah yang harus mengurus masalah ini, dan tidak ada orang yang bisa diandalkan kecuali diri sendiri.
- 3 Srikandi
Film biopik yang membahas kisah nyata perjuangan tiga atlet panahan Indonesia di tahun 1988, saat akan mengikuti Olimpiade di Seoul. Tiga atlet panahan yang akan berlomba sudah terpilih: Nurfitriyana Saiman (Bunga Citra Lestari), Lilies Handayani (Chelsea Islan) dan Kusuma Wardhani (Tara Basro).
Tapi tentu rintangan menghadang ketiganya, mulai dari birokrasi di tahun tersebut yang lamban, persiapan yang serba mepet, serta konflik keluarga yang dihadapi masing-masing atlet. Di film ini, tiga wanita tersebut memperlihatkan bagaimana sikap disiplin serta kerja sama kolektif berhasil mendobrak stigma bahwa perempuan Indonesia bisa mencapai level tertinggi di kancah internasional.
- Hamnet
Melipir sedikit ke karya luar, Hamnet berhasil memperlihatkan sisi kuat sekaligus lembut dari Agnes, seorang istri dan ibu yang hidup di wilayah pesisir luar London. Dicap aneh karena kerap berjalan sendiri di hutan, belum lagi kebiasaan memelihara burung elang; ini nggak bikin Agnes jadi minder. Justru, ia berhasil membuktikan bahwa dengan menjadi diri sendiri ia bisa hidup bahagia dan nggak terpaku dengan stigma orang.
Sisi kuat Agnes juga diperlihatkan saat ia kehilangan sang anak. Alih-alih mencoba menghapus kesedihan, ia justru mencari cara untuk menata hidupnya kembali dengan berjalan melalui duka tersebut, meskipun tanpa kehadiran sang suami. Di tengah emosinya yang nggak stabil, Agnes berhasil menjadi penyangga kehidupan dirinya dengan dua orang anaknya yang masih hidup.
- Cut Nyak Dhien
Selain Kartini, Indonesia benar-benar dikaruniai banyak figur wanita kuat, Cut Nyak Dhien contoh lainnya. Kalau biasanya yang memimpin perang adalah laki-laki, Cut Nyak Dhien berhasil membuktikan kalau kepemimpinan nggak melulu soal gender, ia terjun langsung ke hutan-hutan di Aceh, memimpin perlawanan terhadap Belanda selama bertahun-tahun.
Meskipun dirinya kehilangan suami saat masa perang, belum lagi rumahnya yang juga habis dijajah, Cut Nyak Dhien tetap berdiri teguh menjadi pemimpin. Ini yang bikin dirinya mendapat respect dari banyak orang, termasuk laki-laki.
- Hidden Figures
Ketiga tokoh perempuan ini tidak hanya menghadapi diskriminasi karena mereka perempuan, tetapi juga karena mereka kulit hitam di Amerika Serikat pada tahun 1960-an. Bekerja di institusi sebesar NASA nggak bikin mereka luput dari tindakan diskriminatif, sesimpel hal toilet saja ketiga wanita ini sampai dibuatkan tempat khusus kulit hitam, saking tidak mau disamakan.
Di Amerika juga dulu tindakan diskriminatif sampai ke level pendidikan. Ada sekolah yang sampai menyebutkan: khusus kulit putih. Masalah muncul saat Mary Jackson ingin mengambil pendidikan di sekolah tersebut, yang sudah jelas melarang kulit hitam untuk masuk ke tempat tersebut. Tapi dengan kegigihannya, Mary berhasil mengubah sistem dan akhirnya masuk ke sekolah impiannya. Terkadang, memang kita harus ‘mendobrak’ pintu yang tertutup secara berani.
Ah, menulis ringkasan film ini MinBHI jadi keinget lagi sama feeling setelah menonton lima film tersebut: bangga, terharu, empowered. Selamat Hari Kartini, selamat merayakan indahnya jadi perempuan.




