Welcome di 10 Min Before Bed edisi ke-9.
Siapa di sini yang berani tampil bare face sejak first date? Sederhana tapi nggak semua orang mau melakukannya. Nyatanya memang ada yang nggak bisa pergi ke luar rumah tanpa ngalis, namun ada juga yang merasa cukup pakai sunscreen untuk nge-date sama pacar.
Ternyata, masih banyak yang menganggap kalau seseorang nggak berani tampil bare face, berarti dia insecure atau kurang percaya diri dengan penampilan aslinya. Ada juga yang berpendapat bahwa makeup tebal saat nge-date adalah bentuk usaha menutupi kekurangan.
Tapi, apakah sesederhana itu?
Kalimat seperti ini mungkin pernah kamu dengar. Atau bahkan, tanpa sadar pernah kamu pikirkan sendiri saat melihat seseorang tampil dengan full glam makeup untuk bertemu pasangannya.
"Kalau pede, kenapa harus pakai makeup tebal?"
Pertanyaannya terdengar masuk akal. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, logikanya agak aneh juga.
Karena kalau memang makeup selalu identik dengan insecurity, berarti semua orang yang berdandan sebelum acara penting sedang merasa tidak percaya diri?
Rasanya nggak juga, ya.
Kenapa Makeup Tebal Sering Dianggap Tanda Insecurity?
Mungkin karena selama bertahun-tahun makeup sering diposisikan sebagai alat untuk "memperbaiki" penampilan.
Foundation untuk menutupi bekas jerawat. Concealer untuk menyamarkan mata panda. Contour untuk membuat wajah terlihat lebih tirus. Hampir semua produk makeup dijual dengan narasi memperbaiki atau menyempurnakan sesuatu.
Nggak heran kalau banyak orang akhirnya menghubungkan makeup dengan rasa kurang percaya diri.
Padahal, kenyataannya lebih kompleks dari itu.
Memakai makeup tidak selalu berarti seseorang membenci wajah aslinya. Sama seperti memakai outfit terbaik bukan berarti kita membenci baju rumahan yang biasa dipakai sehari-hari.
Kadang kita cuma ingin tampil lebih maksimal untuk momen tertentu.
Dan itu normal.
Ini Nge-date, Bukan Pergi ke Minimarket
Coba bayangin kamu mau meet up sama gebetan yang sering banget bikin kamu senyum-senyum sendiri belakangan ini.
Apakah kamu akan siap-siap dengan cara yang sama seperti saat pergi membeli tisu ke minimarket?
Sudah pasti tidak.
Kamu mungkin sudah sibuk memilih outfit sejak tiga hari sebelumnya. Mencoba beberapa pilihan parfum, menentukan mau rambut lurus atau curly, sudah pasti. Atau menghabiskan waktu lebih lama untuk memasang eyeliner yang bikin mata terlihat lebih dramatis.
Karena buat banyak orang, nge-date adalah momen spesial.
Jadi ketika seseorang memakai makeup yang lebih bold saat kencan, bisa jadi itu bukan karena dia insecure. Bisa jadi karena dia memang excited.
Ingat ya, insecure dan excited adalah dua hal yang berbeda.
Ada yang Pakai Makeup karena Hobi
Ini yang sering orang-orang lupa.
Buat sebagian orang, makeup adalah kesenangan.
Mereka menikmati prosesnya.
Memilih warna blush yang cocok. Mencoba teknik contour baru. Menghabiskan waktu menonton tutorial makeup sampai tengah malam. Mengoleksi lippies meski shade yang dibeli hampir nude semua. Jujur, MinBHI relate banget sama poin yang satu ini, hehehe.
Kalau ada yang rela bangun subuh demi nonton Piala Dunia, kenapa aneh kalau ada yang rela makeup berjam-jam demi bikin complexion yang flawless?
Buat beauty enthusiast, makeup bukan sekadar alat.
Makeup adalah hobi.
Dan seperti hobi lainnya, dilakukan karena suka.
Tapi Ada Juga yang Memang Lebih Percaya Diri dengan Makeup
Di sisi lain, kita juga nggak bisa menutup mata bahwa ada orang yang merasa lebih nyaman saat memakai makeup.
Dan itu bukan tugas kita untuk judge.
Faktanya, banyak hal yang membuat seseorang merasa lebih percaya diri, termasuk kamu. Let's be honest.
Ada yang merasa lebih pede pakai baju all black. Ada yang merasa lebih percaya diri setelah olahraga. Ada juga yang merasa lebih siap menghadapi dunia setelah memakai lipstick warna gelap favoritnya.
Kepercayaan diri sering kali dibangun dari banyak hal kecil.
Masalahnya bukan pada makeup, melainkan ketika rasa percaya diri kita sepenuhnya bergantung pada makeup.
Kalau tanpa makeup seseorang masih bisa menghargai dirinya sendiri, maka makeup hanyalah pelengkap. Bukan fondasi.
Ironisnya, Perempuan Selalu Punya Standar yang Harus Dipenuhi
Yang menarik, perempuan sering berada di posisi yang serba salah.
Tampil natural dibilang, "Agak kucel ya."
Tampil full makeup dibilang, "Mau ke mana sih?"
Pakai makeup tipis dibilang, "Malah kayak nggak makeup."
Pakai makeup tebal dianggap, "Nggak usah dibuat-buat, sewajarnya aja."
Kalau dipikir-pikir, mengikuti standar kecantikan sosial itu nggak ada habisnya karena selalu berubah tergantung siapa yang melihat lalu berkomentar (yang tentunya di luar kendali kita).
Padahal keputusan untuk memakai makeup atau tidak seharusnya menjadi urusan personal.
Karena yang menjalani hari itu bukan teman kantor, bestie sekolah, atau tante super bawel itu, tapi ya diri kita sendiri.
Jadi, Makeup Tebal saat Nge-date itu Insecure atau Bukan?
Jawaban singkatnya: belum tentu.
Makeup tebal bisa berarti banyak hal. Bentuk ekspresi diri, hobi, ritual menyenangkan sebelum bertemu seseorang, cara menunjukkan effort, atau sekadar karena seseorang ingin tampil berbeda alias pangling.
Tentu ada orang yang memakai makeup untuk menutupi rasa tidak percaya diri. Tapi itu hanya satu kemungkinan di antara banyak alasan lainnya.
Next time, kalau melihat orang mau nge-date atau mungkin pasangan kamu sendiri lagi suka pakai full coverage foundation, bulu mata palsu, dan highlighter yang stand out, mungkin kita nggak perlu buru-buru mengambil kesimpulan.
Karena makeup yang tebal tidak selalu menandakan insecurity.
Kadang, itu cuma tanda bahwa seseorang lagi menikmati proses makeup dan ingin tampil jadi versi terbaik dari dirinya saat pergi sama kamu atau orang tersayangnya.
Dan jujur aja, bukankah itu yang sering kita lakukan saat ada momen spesial?