Latest
Review
Tips & Tutorial
Kandungan
Tipe Kulit
Permasalahan Kulit
Lifestyle
Shop
Tips & Tutorial
Tipe Kulit
Permasalahan Kulit

Lifestyle
Haruskah Selalu Sepaham & Sekubu Sama Si Bestie?
By Klaudia Restorisa
09 Jan 2026
Haruskah Selalu Sepaham & Sekubu Sama Si Bestie?

Layaknya hubungan pacaran, relasi persahabatan juga sering kali menimbulkan dilema, drama, sampai akhirnya putus kawan. Penyebabnya beragam, mulai dari perkara pinjam meminjam barang atau uang yang lupa (atau dilupakan) untuk dikembalikan, sampai munculnya perbedaan pendapat.

Perbedaan pendapat yang MinBHI maksud di sini, bukan soal sudut pandang politik (meskipun sering terjadi) tapi lebih ke soal loyalitas seseorang kepada sahabat karibnya. 

Ada yang bilang, bestie baru bisa dibilang sahabat sejati kalau selalu sepaham dan sekubu. Mulai dari urusan gosip, minat, sampai konflik dengan orang lain. Seolah loyalitas kita sebagai teman hanya ditentukan dengan pihak mana yang kita pilih.

Hal ini bikin MinBHI jadi berpikir, apakah pertemanan yang sehat benar-benar harus seperti itu? Mari kita bahas lebih dalam di seri 10 Minutes Before Bed kali ini.

 

Bestie Itu Teman, Bukan Cermin.

Dalam hubungan persahabatan, kita memang mencari kenyamanan, termasuk rasa sepaham. Tapi bestie bukan salinan diri kita. Semua teman kita  punya pengalaman, nilai, dan cara berpikir yang berbeda. Karena itu, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar bahkan sehat dalam hubungan sosial.

Penelitian menunjukkan bahwa kualitas persahabatan mencakup aspek dukungan dan konflik, bukan yang langgeng tanpa masalah. Beda pendapat atau debat adalah bagian dari dinamika hubungan yang normal dalam sebuah hubungan, baik pacaran, berkeluarga, bahkan bersahabat. (dikutip dari Jurnal STITNU Al Hikmah)

 

Saat Bestie Berantem dengan Mutual Friend

Bayangkan situasi ini: bestie kamu sedang bermasalah serius dengan salah satu mutual friend kalian. Konflik itu membuat kamu ada di posisi yang sulit, karena kedua kubu mulai renggang, saling unfollow di social media, silent treatment, sampai saling nyindir di grup chat.

Kondisi ini bikin kamu menghadapi tekanan:
“Kanan teman, kiri sahabat, harus bela yang mana.” Padahal kamu sama sekali tidak memiliki masalah personal dengan keduanya.

Bisa jadi, kamu merasa (atau dibuat merasa) loyalitas sebagai seorang sahabat dipertanyakan, kondisi yang sama sekali nggak nyaman.

 

Netral ≠ Tone Deaf (Tidak Peduli)

Menjadi netral bukan berarti tidak peduli. Dalam banyak kasus, konflik dua orang tidak langsung menjadikan kamu bagian dari masalah itu. Selama mutual friend tersebut tidak melakukan tindakan yang menyakiti kamu secara langsung atau bertentangan dengan prinsipmu, kamu berhak mempertahankan hubungan baik tanpa harus ikut memihak.

Itu bukan sikap cuek, tapi sikap manusia dewasa, yaitu menghormati hubungan yang kamu miliki dengan masing-masing pihak tanpa harus terlibat dalam drama sahabatmu, sehingga tidak memperluas masalah atau konfliknya. 

Namun ingat, kehadiran kamu tetap diperlukan sebagai bentuk dukungan emosional kepada sahabatmu. Tapi kehadiran seperti apa sih yang dimaksud di sini?

 

Cara Menyikapi Konflik Teman

Berikut beberapa sikap yang bisa kamu ambil secara sehat: 

  1. Tunjukkan empati pada bestie, dengarkan ceritanya tanpa perlu ikut menyerang pihak lain. 
  2. Hindari menyebarkan gosip atau memperkeruh konflik.
  3. Tetap jujur pada perasaanmu: kamu boleh memilih untuk netral.

Misalnya kamu bisa mengatakan:

“Aku ngerti kenapa kamu kesel. Kalau mau ditemenin untuk datang dan beresin masalahnya sama dia aku available, tapi aku akan tetep netral ya, kamu sahabat aku, dan dia juga temanku”

Kalimat seperti ini menunjukkan bahwa kamu menghormati hubungan, bukan hanya sekadar ikut berpihak.

 

Perbedaan Itu Nggak Harus Dijauhi

Selalu sepaham sama sahabat atau pacar memang terasa nyaman, tapi bukan satu-satunya fondasi pertemanan yang sehat. Penelitian hubungan sosial menegaskan bahwa kualitas persahabatan bukan diukur dari konsistensi pendapat, tetapi dari kemampuan untuk mengutarakan pendapat  meski tidak selalu sependapat. (jurnal.kopusindo.com)

Tetapi bukan berarti nggak ada batas. Jika konflik sudah melewati batas toleransi pribadi, misalnya kamu terus-terusan dituntut untuk memihak sahabatmu, bisa jadi itu namanya toxic yang akan merugikan kamu secara emosional. Sikap mengambil jarak bisa jadi pilihan tepat supaya relasinya bisa kembali sehat.

 

Loyalitas dengan Batas.

Jadi, jawabannya: Persahabatan nggak melulu harus selalu sepaham & sekubu. Loyalitas dalam persahabatan bukan berarti menyerah pada tekanan untuk memilih pihak. Yang penting adalah:

  • Saling menghormati perbedaan
  • Empati tanpa drama
  • Kejujuran tanpa menyakiti
  • Tetap menjaga batas yang sehat

Karena bestie sejati bukan yang selalu setara dan satu suara,
tapi yang tetap menghargai kamu, bahkan saat nggak sependapat.

Untuk menikmati artikel 10 Minutes Before Bed yang bertema slice of life lainnya dari MinBHI, kamu bisa nikmati di sini ya