Pernah nggak dibilang pick me karena pilihan kamu berbeda dari teman-teman yang lain. Karena punya standar yang beda sendiri, atau berani memilih yang terbaik buat diri sendiri meskipun bikin kamu jadi beda sendiri? Di era media sosial, istilah pick me sering dipakai untuk memberi label kepada seseorang, terkadang tanpa konteks yang lengkap.
Wajar kalau banyak orang jadi ragu, apakah sikapnya termasuk pick me, atau justru sudah paham akan value diri sendiri?
Yuk, kita bahas secara lebih objektif.
Apa Itu Pick Me
Istilah pick me umumnya digunakan untuk menggambarkan sikap seseorang yang mencari penerimaan sosial secara berlebihan, bahkan sampai mengorbankan pendapat atau batasan diri sendiri demi disukai atau dipilih oleh orang lain. Fenomena ini sebenarnya tidak berkaitan dengan gender tertentu, melainkan dengan kebutuhan akan validasi eksternal.
Dalam konteks psikologi sosial, perilaku ini sering muncul dari rasa takut ditolak atau keinginan kuat untuk diterima dalam kelompok sosial.
Sadar Value Diri Tidak Sama dengan Pick Me
Sadar value diri sendiri berarti mengenal siapa diri kamu, memahami kebutuhan pribadi, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang, bukan semata demi mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Seseorang yang sadar value diri biasanya:
- Mengetahui standar yang dibutuhkan dalam relasi, pekerjaan, atau kehidupan pribadi
- Tidak merasa perlu menjelaskan semua pilihannya kepada orang lain
- Merawat diri karena merasa pantas, bukan demi pujian
- Mampu mengatakan “tidak” tanpa rasa bersalah
Jika kamu berada di titik ini, itu bukan pick me, melainkan bentuk self-awareness.
Beda Tipis Tapi Signifikan
Perbedaannya sering kali ada di niat dan cara menyampaikan.
Memilih produk skincare high-end yang lagi viral karena kamu paham kandungannya dan cocok di kulitmu? Itu sadar value diri.
Tapi mengklaim pilihanmu paling benar sambil meremehkan pilihan orang lain? Baru itu pick me.
Media Sosial dan Tekanan untuk jadi Sama
Media sosial sering menciptakan standar tak tertulis: produk yang viral, rutinitas yang dianggap “ideal”, sampai definisi cantik yang seragam. Di tengah arus ini, berani memilih sesuai kebutuhan diri sendiri justru bukan hal yang salah.
Masalah muncul saat perbedaan itu dijadikan alat untuk merasa lebih unggul.
Jadi, Kamu yang Mana?
Kalau kamu:
- Merawat diri untuk merasa lebih nyaman
- Memilih skincare karena cocok, bukan karena FOMO
- Tidak merasa perlu menjelaskan atau membenarkan pilihanmu ke semua orang
Besar kemungkinan kamu bukan pick me, tapi seseorang yang sudah mulai sadar value diri sendiri.
Berbeda itu wajar. Punya standar sendiri itu sehat. Selama pilihanmu tidak dibangun di atas validasi atau merendahkan orang lain, itu bukan pick me, itu itu self-awareness.
Beauty routine terbaik bukan yang paling ramai dibicarakan, tapi yang paling sesuai dengan kebutuhan kamu sendiri.
You just Enough
Percaya diri bukan tentang ingin dilihat atau diakui oleh semua orang, tetapi tentang keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan mengatakan bahwa kamu cukup. Merawat diri bukan tindakan egois, melainkan bagian dari menghargai diri sendiri secara utuh.
Semoga tulisan 10 minutes before bed kali ini bisa bikin kamu berhenti sebentar, merefleksikan pilihan-pilihanmu, dan mengingatkan bahwa menjadi diri sendiri selalu cukup tanpa perlu pembuktian.