Pernah nggak sih kamu ngerasa, “Kok aku jadi gampang nge-judge ya?” atau “Kenapa sekarang aku lebih bitter dari biasanya?”. Coba ingat-ingat, konten siapa dan seperti apa yang belakangan sering kamu lihat di timeline kamu?
Awalnya cuma follow karena kontennya lucu. OOTD-nya on point. Lifestyle-nya relatable. Omongannya ceplas-ceplos tapi jujur. Kita merasa, “Finally, someone real”.
Sampai suatu hari, candaan mulai terasa berlebihan. Makin sering nyinyir sama orang. Drama jadi konten utama. Dan tetap kita tonton.
Bahkan kadang batas antara “bicara jujur” dan “bicara kasar” jadi makin tipis bedanya, dan gaya hidup yang serba bebas, semaunya mulai dinormalisasi seolah itu standar baru.
Dan di titik itu, tanpa sadar, kita mulai ikut berubah.
Bukan drastis. Bukan tiba-tiba jadi orang yang berbeda. Tapi pelan-pelan.
Duh, kayaknya topik 10 Minutes Before Bed kita kali ini lumayan berat ya, huhuhu.
Toxic Itu Menular, Tapi Caranya Halus
Algoritma media sosial itu repetitif. Apa yang kita lihat hari ini, kemungkinan besar akan kita lihat lagi besok. Lama-lama, pola itu terasa familiar. Dan sesuatu yang familiar sering kali terasa “aman”, sampai membentuk your type of content..
Dalam teori Social Learning dari Albert Bandura, manusia belajar melalui observasi. Kita menyerap perilaku orang lain, terutama figur yang kita anggap relevan atau menarik. Artinya, bukan cuma makeup tutorial yang bisa kita tiru, tapi juga cara bicara, menyikapi konflik, bahkan POV mereka pun bisa kamu ikuti tanpa sengaja.
Kalau setiap hari kita melihat:
- Bicara kasar, nggak kenal tempat
- Meremehkan orang lain demi engagement
- Drama dijadikan konten
- Gaya hidup impulsif dibingkai sebagai “authentic”
Lama-lama standar kita bisa ikut bergeser.
“Nggak Usah Lebay, Ini Cuma Konten”
Iya, itu memang konten. Tapi otak kita tidak selalu memprosesnya sebagai sesuatu yang sepenuhnya terpisah dari realitas.
Sebuah studi dalam Journal of Social and Clinical Psychology (2018) menunjukkan bahwa mengurangi penggunaan media sosial secara signifikan menurunkan tingkat depresi dan kesepian. Artinya, paparan konten memang berdampak pada kondisi psikologis kita.
Penelitian lain dalam Computers in Human Behavior juga menemukan bahwa social comparison di media sosial dapat meningkatkan rasa tidak puas terhadap diri sendiri. Apalagi jika yang kita lihat adalah gaya hidup yang terlihat bebas tanpa konsekuensi, selalu benar, selalu menang argumen.
Dan tanpa sadar, kita mulai:
- Lebih gampang jadi bitter atau sinis
- Lebih defensif
- Lebih mudah merasa kurang
- Lebih gampang judgmental
Padahal dulu mungkin kita nggak seperti itu.
Ingat, Normalisasi Itu Sifatnya Licin
Yang bikin berbahaya bukan satu konten. Tapi konsistensinya.
Karena kita menonton sambil santai. Sambil makan. Sambil sebelum tidur. Setiap hari.
Pelan-pelan, komentar pedas terasa biasa. Bahasa kasar terasa wajar. Bahkan humor cabul yang seksis bisa terasa lucu. Tanpa ada yang kita rasa salah.
Sampai akhirnya kita lupa untuk bertanya sama diri sendiri setiap kali terpapar konten semacam itu:
Ini hiburan ku, atau sudah framing yang memengaruhi aku melihat dunia?
Jadi, Apakah Bisa Memengaruhi Kepribadian dan Mental Kita?
Jawaban singkatnya: bisa. Tapi tidak instan.
Kepribadian terbentuk dari kebiasaan kecil yang diulang setiap hari. Dan timeline media sosial adalah ruang yang kita masuki setiap hari, tanpa kita sadari dampaknya.
Kabar baiknya, kita masih punya kontrol.
Mute bukan berarti lemah. Unfollow bukan berarti iri.
Kadang itu hanya bentuk self-care digital.
Karena sama seperti kita selektif memilih produk untuk kulit kita, kita juga berhak selektif memilih siapa yang punya akses ke pikiran dan emosi kita setiap hari.
Dan mungkin refleksi paling jujurnya adalah ini:
Setelah menonton mereka, aku merasa berkembang… atau justru makin menjadi seperti mereka? Semoga jempol dan smart phone kamu, bisa menentukan jawabannya.
Hidup memang selalu penuh dengan pertanyaan, tapi worry not karena ada MinBHI yang selalu siap jadi your big sist di setiap artikel 10 Minutes Before Bed. Semoga kita bisa glow up dan grow up bareng-bareng terus ya, Beautyhaul Squad!