Belakangan ini rasanya berat banget setiap baca berita. Sepertinya situasi ekonomi dan politik di Indonesia masih saja belum menunjukan kemajuan yang positif. Imbasnya bukan cuma harga kebutuhan pokok yang naik, isu lay off juga semakin naik grafiknya.
Untuk kita yang kelas pekerja ini, sulit rasanya memprediksi masa depan karier. Walaupun katanya angka pertumbuhan ekonomi terlihat “aman” di level pekerja, MinBHI takut itu cuma ilusi. Nggak sedikit dari kita sekarang yang hidup dalam mode survival: yang penting ada gaji masuk setiap bulan, urusan bahagia dan sehat mental belakangan.
Belum lagi masalah khas lain kelas pekerja: Lingkungan kerja yang toxic. Rasanya benar-benar dihimpit jurang. Haruskah resign supaya bisa lebih bahagia (katanya) atau bertahan supaya tetap bisa makan (mirisnya). Yuk kita renungin bareng-bareng di episode ke-5 dari 10 Minutes Before Bed.
Kantor Toxic: Capek Mental, Tapi Sulit Ditinggal
Kantor toxic bukan cuma soal kerjaan banyak. Bisa berupa atasan yang childish, minim empati, nggak bisa diandelin, atau bisanya nyuruh aja, sampai deadline kerjaan yang nggak pernah selesai. Pelan-pelan, kondisi seperti ini bikin cemas, dan bikin perjalanan berangkat atau pulang kerja terasa lebih melelahkan secara mental daripada fisik.
Hal ini yang bikin resign terasa menggoda, meskipun itu hanya seperti loncat ke ruang kosong. Banyak orang akhirnya memilih bertahan, walaupun setiap hari harus berangkat kerja dengan minimnya semangat.
Dilema Klasik: Waras atau Aman Finansial?
Inilah konflik batin banyak pekerja hari ini. Di satu sisi, kesehatan mental itu penting. Di sisi lain, tagihan tetap harus dibayar, dan keinginan yang mesti dikejar. Bertahan di kantor toxic terasa menyakitkan, tapi keluar tanpa pegangan juga menakutkan. Akhirnya, banyak yang memilih menunda pergi sambil berharap situasi membaik, atau setidaknya, diri sendiri cukup kuat untuk bertahan.
Kalau Kamu Pilih untuk Bertahan, Ini Buat Kamu
Bertahan bukan berarti pasrah tanpa perlindungan. Ada beberapa cara praktis yang bisa membantu menjaga kewarasan selama masih harus berada di lingkungan yang tidak ideal.
1. Jangan Menggantungkan Validasi dari Atasan
Berhenti berharap pengakuan akan selalu datang. Kerja baik memang harus, tapi jangan jadikan validasi sebagai sumber harga diri. Nilai dirimu tidak ditentukan oleh seberapa sering atasan mengakui usahamu.
2. Kerjakan Sesuai Porsi, Bukan Sampai Mengorbankan Diri
Lakukan yang memang menjadi tanggung jawabmu, tidak perlu mengambil semua beban meskipun kamu memang bisa mengerjakannya. Belajar memasang batas adalah bentuk menjaga diri, bukan tanda malas.
3. Pisahkan Identitas Diri dari Pekerjaan
Kamu lebih dari sekadar surat kontrak dan angka-angka KPI. Saat kantor mulai terasa bikin kamu kehilangan sukacita, ingat bahwa hidupmu tidak berhenti di meja kerja.
4. Bangun Safe Places di Luar Kantor
Pertemanan yang sehat di luar dunia kerja itu krusial. Sahabat yang bisa mendengar semua curhatan kamu soal masalah kantor tanpa menghakimi, tanpa politik, tanpa kompetisi, akan jadi tempat pulang emosional saat kantor terasa sesak.
5. Ciptakan Ritual Pulang yang Menenangkan
Cintai dirimu sendiri dengan melakukan aktivitas yang selalu kamu tunggu setelah jam kerja, entah padel, yoga, nonton, journaling, masak, atau cobain tempat makan baru, bisa membantu otak memisahkan “mode kerja” dan “mode hidup”.
6. Dalami Hobi yang Bikin Kamu Merasa Hidup
Hobi bukan sekadar pengisi waktu, tapi sumber energi. Di sanalah kamu bisa kembali merasa utuh sebagai manusia, bukan sekadar pekerja.
7. Tetap Siapkan Jalan Keluar
Walau masih bertahan, jangan berhenti merencanakan masa depan. Update CV, belajar skill baru, perluas koneksi, dan buka mata pada peluang. Bukan untuk kabur hari ini, tapi agar suatu hari kamu pergi dengan tenang, bukan terpaksa.
Jadi, Haruskah Bertahan?
Bertahan di kantor toxic saat ekonomi dan politik tidak stabil bukan berarti kamu lemah. Sering kali itu pilihan paling realistis. Tapi penting untuk diingat: bertahan seharusnya bersifat sementara, bukan hukuman seumur hidup.
Selama kamu masih merawat diri, menjaga batas, dan menyiapkan langkah berikutnya, kamu tidak benar-benar terjebak. Kamu hanya sedang mengumpulkan tenaga sampai suatu hari bisa bekerja di tempat yang tidak hanya memberi gaji, tapi juga rasa aman, dihargai, dan ruang untuk tumbuh.