Latest
Review
Tips & Tutorial
Kandungan
Tipe Kulit
Permasalahan Kulit
Lifestyle
Shop
Tips & Tutorial
Tipe Kulit
Permasalahan Kulit

Lifestyle
4 Takeaways dari Bridgerton Season 4, Super Berbeda dari Zaman Now!
By Alisa Kintan Giovani
06 Feb 2026
4 Takeaways dari Bridgerton Season 4, Super Berbeda dari Zaman Now!

Akhirnya, MinBHI kelar juga nonton Bridgerton season 4. So far, this has been MinBHI’s fave season! Bukan cuma karena Benedict Bridgerton yang jadi highlight, tapi somehow nonton Bridgerton season terbaru ini mengingatkan MinBHI akan kisah Cinderella. Hopelessly romantic and cliche, yet incredibly warming to watch. Tapi lebih dari ceritanya yang mirip Cinderella, ada lima hal yang MinBHI notice dari Bridgerton season 4, dan somehow bikin bersyukur kalau kita lahir di era sekarang. Ini dia list-nya:

 

 

Keharusan menikah dengan seseorang yang levelnya setara

As much as we hated it, faktanya di era abad ke-19 (sekitar tahun 1813–1827), hal seperti ini memang nyata. Apalagi Benedict Bridgerton berasal dari keluarga bangsawan yang sangat terpandang, di mana status sosial sangat menentukan nasib keluarga.

 

Karena itu, ia diharuskan menikah dengan wanita dari keturunan bangsawan juga demi menjaga status sosial dan stabilitas garis keturunan keluarganya. Cruel, we know. But that’s the harsh truth about living in that era.

 

 

Maids cannot engage in upper society

Setiap household di era itu punya helper alias pembantu, biasanya lebih dari tiga orang. Di Bridgerton, para helper ini umumnya berasal dari strata sosial yang jauh lebih rendah.

 

Melihat bagaimana society bekerja pada era 1813, mereka tidak diperbolehkan bergaul dengan kaum bangsawan. Bahkan sekadar berbincang pun dianggap melanggar batas. Ironisnya, merekalah orang-orang yang justru menopang kehidupan sehari-hari keluarga bangsawan. Sadis, ya?

 

Wanita tidak diperbolehkan pergi ke sekolah

MinBHI bisa bilang, hampir semua figur wanita di Bridgerton punya charm tersendiri yang bikin karakter mereka menarik. Tapi di balik itu semua, ada satu realita pahit: mereka tidak diperbolehkan untuk pergi ke sekolah.

 

Menurut beberapa sumber, wanita di zaman tersebut dianggap lebih aman mendapatkan pendidikan di dalam rumah. Untuk keluarga bangsawan, hal ini bukan masalah besar, tinggal panggil tutor dan beli buku. Beruntungnya, karakter seperti Eloise, Francesca, dan Penelope tetap punya akses belajar berkat orang tua mereka. Even Sophie pun gemar membaca, meski tanpa tutor khusus.

 

 

Semua ikut kata orang tua

Momen awal Bridgerton akan dimulai dengan event Dance with a mask. Basically, semua orang (bangsawan) akan hadir ke acara ini dengan tujuan: mencari jodoh. This is the highlight: setiap anak, nggak cuma pria tapi wanita, akan ditakdirkan untuk menikah. Dengan jodoh yang sesuai, bahkan ada juga yang dijodohkan. Seakan nggak ada tujuan hidup lain, misalnya belajar di luar negeri, atau bahkan membangun karir dari 0. Oh, how ironic. 

 

 

Kalau kalian, apa hal menarik yang kalian ingat sehabis nonton Bridgerton? Stay tuned terus di blog Beautyhaul untuk info lifestyle ter-update!